Jauh sebelumnya aku telah memulai berbicara kepada diriku sendiri tentang apa yang kurasakan dan kulakukan. Aku bertanya ke dalam dengan berbagai pertanyaan menggunakan metode 5W +1H tentunya ini sangat familiar bagi semua. Namun kali ini aku bercerita tentang tanya-jawab antara diriku dengan aku di dalam suatu percakapan yang menarik ditemani oleh semesta dan Pemiliknya.
Saya (Pikiran) : Hai engkau, apa yang sedang kau pikirkan ?
Saya (Hati) : Apa katamu ? bukankah engkau pikiranku ? kenapa engkau berkata apa yang kupikirkan ? Tidakkah kau tahu akan isi pikiranku saat ini ?
Saya (Pikiran) : Bukannya aku tidak tahu, tapi kerap sekali pikiranmu tidak engkau kerjakan sementara banyak yang muncul ide-ide baru yang kadang aku pun tak sanggup menampungnya. Apa sih yang kau gelisahkan ?
Saya (Hati) : Kegelisahanku banyaklah namun ada satu hal yang engkau pasti tahu namun tak akan kutuliskan disini. Cukup engkau dan aku saja. Begini yang kurasakan saat ini....Aku telah melalui banyak-banyak kejadian dalam hidupku tapi rasa-rasanya aku mulai gagal entah karena aku yang merasa gagal atau mungkin karena aku tidak mengerjakannya. Itu menghantui pikiranku sehingga aku pun kadang semangat namun teramat sering tidak bersemangat
Saya (Pikiran) : Cukup, cukup, cukup... Kamu tidaklah gagal, lihat apakah engkau sudah tidak mempunya daya lagi ? Atau sudah hilangkah akalmu ? Atau sudah benar mati kah semangatmu ?
Saya (Hati) : Tentunya tidak, aku masih ada tenaga, aku masih memiliki akal yang sehat dan semangatku masihlah banyak
Saya (Pikiran) : Nah, berarti kegagalan tidaklah ada di dalam engkau. Semua yang kau sampaikan sebelumnya hanyalah rasa letihmu saja yang sedang mendominasi engkau. Cukup istirahat sejenak dan lihatlah sekelilingmu.
Saya (Hati) : Saya sudah cukup banyak istirahat dan telah melihat sekelilingku dengan begitu ragamnya. Rasa-rasanya sudah cukup bagiku beristirahat.
Saya (Pikiran) : Berarti cukuplah tujukan satu di pikiranmu, jangan terlalu banyak dan bahkan hanya yang harus kau kerjakan sekarang.
Saya (Hati) : Saya telah mencoba namun tak semudah itu bagiku.
Saya (Roh) : Hai kamu berdua ? Kamu sedang berbicara apakah ? Menarik dan penting sekiranya yang kamu bicarakan.
Kita (Pikiran dan Hati) : Iya (sahut kami berdua)
Saya (Pikiran) : Dia (Hati maksudnya) begitu letih sepetinya bukan fisiknya, bukan pula jiwanya sepertinya, tapi apa yang lemah darinya aku juga kurang mengerti.
Saya (Hati) : Aku cukup letih dan lesu, atas apa yang aku letihkan pun menjadi bayang-bayang samar bagiku. Entah mulai darimana aku pun bingung.
Saya (Pikiran) : Bukankah engkau puny banyak teman yang begitu mampu menolong engkau ? Bukankah engkau begitu baiknya akan mereka ? Kenapa engkau tidak meletakkan tanganmu dibawah untuk meminta ?
Saya (Hati) : Benar katamu itu, tak sedikitlah yang bisa menolong aku, tapi...
Saya (Pikiran) : Tapi apa ? Egomu ? Gegsimu ? Atau apakah ?
Saya (Hati) : Bukan pula, asal kau ketahui bukannya aku tidak pernah meletakkan tanganku dibawah, namun...
Saya (Pikiran) : Namun apa ? kecewa ? atau apa ?
Saya (Hati) : Bukan begitu, tak sedikit yang menyangkan aku bahwa aku sengaja menguji mereka ketika memintakan bantuan. Dianggap bercanda dan tak wajarlah itu bagiku.
Saya (Pikiran) : Tapi kali ini coba lagi, itu hanya ilusi sesaat, tak selamanya begitu.
Saya (Hati) : Bukannya aku kecewa ketika tidak mendapat bantuan tapi aku ragu akan memintanya lagi.
Saya (Pikiran) : Terus siapa yang akan kau mintakan ? Siapa lagi yang akan kau sandarkan ?
Saya (Roh) : Adakah Dia yang mengecewakanmu ? Adakah Dia yang tidak menolong engkau ? Atau tidak mampukah Dia ?
Saya (Hati) : Sejatinya tidak, dan tidak pernah
Saya (Roh) : Kenapa engkau sibuk dengan raut di pikiranmu ? Bukankah Dia senang meolong dan menunggu yang meminta ?
Saya (Hati) : Baiklah.
Saya (Roh) : Dia menunggumu dan ingin memberimu
Saya (Hati) : Baik, aku kerjakan.
Halo semua, dari cerita antara aku dan diriku menggambarkan situasi bahwa begitu banyak yang sejatinya bisa menolong kita, tapi jangan lekaslah meminta kepada orang bukannya tidak boleh tapi coba tanyakan kembali ke dalam diri anda. Apa yang harus aku lakukan ? Bagaimana aku harus menghadapinya ? Dengan siapa akan kulewati ? Tentunya tidaklah mudah namun ketika engkau mampu berbicara dengan dirimu di kemurnian hati dan pikiranmu tentulah ada jalan yang akan membawamu kepada ketenangan. Semua memiliki fasenya tapi pastikan setiap fase engkau berhasil. Yang menentukan ialah dirimu sendiri. Tidak ada kegagalan selama masih ada hembusan nafas walaupun banyak kekeliruan yang kau pilih. Seiring waktu engkau akan bijak atasnya.
Salam,
by fspandia
No comments:
Post a Comment