Cerita ini yang aku alami ketika pertama kali melihat aksi demonstrasi secara langsung setelah aku 29 tahun ada di bumi Indonesia.
Pada sore menjelang maghrib di hari Kamis, 28 Agustus 2025 aku keluar dari sekitaran Pondok Indah menuju Pejompongan - Bendungan Hilir karena rutenya emang begitu mudah tinggal lewat Jalan Sultan Iskandar Muda terus lanjut ke Tentara Pelajar sampailah.
Awalnya aku tidak begitu suka dengan aksi demonstrasi karena dalam pikiranku demonstrasi berkonotasi negatif karena akan menggangu lalu-lintas bahkan fasilitas umum itulah yang selalu aku ingat dan lihat di televisi bahkan ketika aku menginjakkan kaki di perkuliahan di Semarang orang tuaku berpesan jangan ikut demo. Tentunya itu membekas dan mewarnai makna demo itu sendiri bagiku (11 tahun lalu, 2014). Dan kesempatan melihat demo secara langsung aku pun tak punya.
Sejak 2022 aku kembali ke Jakarta sebagai pekerja membuat aku kali ini sungguh penasaran akan melihat demo ini. Karena sejak 2022 sampai waktu itu baru itulah demo yang besar bagiku karena pemberitaan di televisi menampilkan aksi demo membuat aku penasaran ingin melihat dan merasakan aura dari demonstrasi itu.
Ketika aku berjalan dari Pondok Indah lalu lalang begitu lancar bahkan relatif sepi, namun sesampainya di Jalan Tentara Pelajar mulailah terlihat aktivitas demonstrasi. Di awal aku merasa jengkel karena kerumunan massa yang membuat gerak motorku pun terhambat dan suasana udara disekitar pun memerinkan mata mungkin karena ditembakkannya gas air mata. Beberapa demonstran masih cukup muda dan yang berseragam sekolah SMA, bertanya, mau kemana ? Jalanan banyak ditutup tak aku sahut dan aku mencari jalan untuk melalui kerumunan itu. Semakin dekat ke lokasi demo Pejompongan semakin terasa aura mencekam, mencekamnya bukan hanya karena antara demonstran dan petugas keamanan, tembakan petasan (fireworks) yang mengudara, melainkan aku melihat aura kegelapan dari pada demonstran (dari pengamatanku) bahwa anak-anak SMA yang terlihat demonstrasi sepertinya fokus dengan dengan aspirasi seolah berkata kepada diri sendiri dan pejabat "seperti apa masa depanku ? bagaimana masa aku bisa bersaing dengan hari esok ? Jika para pejabat dan yang diberi amanat tak kunjung peduli akan kondisi real di bawah, itulah yang paling mencekam bagiku dan aku merasakan aura itu walaupun tak bersuara mereka menyerukannya. Jujur melihat anak-anak SMA yang ikut demonstarsi terenyuh hatiku bahwa demonstarsi itu perlu untuk mengingatkan mereka-meraka yang duduk di pedudukan yang amat nyaman. Tak henti disitu aura mencekam lainnya ialah ketika ada seorang ojek online (grab kalau tidak salah pada waktu itu) bertanya bisa lewat ke Benhil ? Rasa-rasanya tidak karena area sini sudah diblokade sahutku, bapak mau kemana ? Saya mau antarkan makanan (double lagi timplanya), coba sampaikan ke customer kondisi yang terjadi serta fotokan, salah satu customer berkata, yaudah pak makanannya untuk bapak saja dengan begitu cepatnya serta pedulinya akan keselamatan driver. Namun satu lagi customernya tetap meminta agar dikirimkan, namun setelah panjang lebar akhirnya customer berkata, okkk pak kalau bisa diantarkan kalau tidak bisa tidak apa. Aku melihat bahwa kondisi yang tidak pasti membuat aura yang mencekam, melihat driver yang tetap bekerja di tengah demonstrasi dan berjuang dengan nyawa karena tidak bisa mengantisipasi di tengah kerumunan seperti itu. Aura mencekam berikutnya ialah penjual keliling seperti cilok, starling yang tetap berjualan waulapun pembelinya sangat minim bahkan hampir-hampir tidak ada walau begitu banyaknya orang. Aura mencekam bukan hanya kontak fisik tapi kondisi kepastian atas masa depan seperti anak SMA, kondisi keamanan bekerja seperti ojek online dan pedang kecil lainnya.
Malam itu benar-benar gelap dan kelam serta mencekam auranya, karena suasana semkain tidak kondusif dan pelemparan petasan serta mobil rantis Brimob yang mulai dijalankan membuat saya memilih jalur yang lebih aman, tepat setelah beberapa saat saya keluar dari Pejompongan tepatnya di Menara BNI terjadilah tragedi ingatan 28 Agustus 2025 dimana seorang ojol terlindas hingga ia berpulang ke Yang Maha Kuasa. Setelah melihat peristiwa demonstrasi pertama secara langsung, saya benar-benar mengakui akan pentingnya bersuara dan melakukan aksi serta demonstrasi bukanlah kerusakan melainkan perbuatan mulia untuk mengingatkan.
Besoknya 29 Agustus 2025, saya mencoba masuk ke beberapa mall dan dampak dari lanjutan demonstrasi masih terasa akan aktivitas niaga yang sungguh sepi, Lippo Mall Nusantara yang dulunya dikenal Plaza Semanggi sungguh lah sunyi karena orang pun tidak berani keluar serta para driver pun tidak mau mengabil meliputi area merah.
Demonstrasi perlu tapi jangan berlarut-larut, jadi para petinggi di kursi pedudukan jangan tutup telinga akan jeritan hati rakyat karena kalau tidak berubah pasti aksi seperti ini akan terjadi dan berdampak pada keamanan, kenyamaan serta aktivitas niaga masyarakat. Saya gatau berapa duit yang tidak beredar pada saat kejadian itu tapi miliran bahkan ratusan mungkin triliunan pada saat 28-29-30 bisa terjadi karena sendi ekonomi terhambat. Ayo suarakan dan tetap dalam nalar dan waras.