Saturday, September 13, 2025

Demonstrasi 28 Agustus 2025

Cerita ini yang aku alami ketika pertama kali melihat aksi demonstrasi secara langsung setelah aku 29 tahun ada di bumi Indonesia.

Pada sore menjelang maghrib di hari Kamis, 28 Agustus 2025 aku keluar dari sekitaran Pondok Indah menuju Pejompongan - Bendungan Hilir karena rutenya emang begitu mudah tinggal lewat Jalan Sultan Iskandar Muda terus lanjut ke Tentara Pelajar sampailah.

Awalnya aku tidak begitu suka dengan aksi demonstrasi karena dalam pikiranku demonstrasi berkonotasi negatif karena akan menggangu lalu-lintas bahkan fasilitas umum itulah yang selalu aku ingat dan lihat di televisi bahkan ketika aku menginjakkan kaki di perkuliahan di Semarang orang tuaku berpesan jangan ikut demo. Tentunya itu membekas dan mewarnai makna demo itu sendiri bagiku (11 tahun lalu, 2014). Dan kesempatan melihat demo secara langsung aku pun tak punya.

Sejak 2022 aku kembali ke Jakarta sebagai pekerja membuat aku kali ini sungguh penasaran akan melihat demo ini. Karena sejak 2022 sampai waktu itu baru itulah demo yang besar bagiku karena pemberitaan di televisi menampilkan aksi demo membuat aku penasaran ingin melihat dan merasakan aura dari demonstrasi itu.

Ketika aku berjalan dari Pondok Indah lalu lalang begitu lancar bahkan relatif sepi, namun sesampainya di Jalan Tentara Pelajar mulailah terlihat aktivitas demonstrasi. Di awal aku merasa jengkel karena kerumunan massa yang membuat gerak motorku pun terhambat dan suasana udara disekitar pun memerinkan mata mungkin karena ditembakkannya gas air mata. Beberapa demonstran masih cukup muda dan yang berseragam sekolah SMA, bertanya, mau kemana ? Jalanan banyak ditutup tak aku sahut dan aku mencari jalan untuk melalui kerumunan itu. Semakin dekat ke lokasi demo Pejompongan semakin terasa aura mencekam, mencekamnya bukan hanya karena antara demonstran dan petugas keamanan, tembakan petasan (fireworks) yang mengudara, melainkan aku melihat aura kegelapan dari pada demonstran (dari pengamatanku) bahwa anak-anak SMA yang terlihat demonstrasi sepertinya fokus dengan dengan aspirasi seolah berkata kepada diri sendiri dan pejabat "seperti apa masa depanku ? bagaimana masa aku bisa bersaing dengan hari esok ? Jika para pejabat dan yang diberi amanat tak kunjung peduli akan kondisi real di bawah, itulah yang paling mencekam bagiku dan aku merasakan aura itu walaupun tak bersuara mereka menyerukannya. Jujur melihat anak-anak SMA yang ikut demonstarsi terenyuh hatiku bahwa demonstarsi itu perlu untuk mengingatkan mereka-meraka yang duduk di pedudukan yang amat nyaman. Tak henti disitu aura mencekam lainnya ialah ketika ada seorang ojek online (grab kalau tidak salah pada waktu itu) bertanya bisa lewat ke Benhil ? Rasa-rasanya tidak karena area sini sudah diblokade sahutku, bapak mau kemana ? Saya mau antarkan makanan (double lagi timplanya), coba sampaikan ke customer kondisi yang terjadi serta fotokan, salah satu customer berkata, yaudah pak makanannya untuk bapak saja dengan begitu cepatnya serta pedulinya akan keselamatan driver. Namun satu lagi customernya tetap meminta agar dikirimkan, namun setelah panjang lebar akhirnya customer berkata, okkk pak kalau bisa diantarkan kalau tidak bisa tidak apa. Aku melihat bahwa kondisi yang tidak pasti membuat aura yang mencekam, melihat driver yang tetap bekerja di tengah demonstrasi dan berjuang dengan nyawa karena tidak bisa mengantisipasi di tengah kerumunan seperti itu. Aura mencekam berikutnya ialah penjual keliling seperti cilok, starling yang tetap berjualan waulapun pembelinya sangat minim bahkan hampir-hampir tidak ada walau begitu banyaknya orang. Aura mencekam bukan hanya kontak fisik tapi kondisi kepastian atas masa depan seperti anak SMA, kondisi keamanan bekerja seperti ojek online dan pedang kecil lainnya.

Malam itu benar-benar gelap dan kelam serta mencekam auranya, karena suasana semkain tidak kondusif dan pelemparan petasan serta mobil rantis Brimob yang mulai dijalankan membuat saya memilih jalur yang lebih aman, tepat setelah beberapa saat saya keluar dari Pejompongan tepatnya di Menara BNI terjadilah tragedi ingatan 28 Agustus 2025 dimana seorang ojol terlindas hingga ia berpulang ke Yang Maha Kuasa. Setelah melihat peristiwa demonstrasi pertama secara langsung, saya benar-benar mengakui akan pentingnya bersuara dan melakukan aksi serta demonstrasi bukanlah kerusakan melainkan perbuatan mulia untuk mengingatkan. 

Besoknya 29 Agustus 2025, saya mencoba masuk ke beberapa mall dan dampak dari lanjutan demonstrasi masih terasa akan aktivitas niaga yang sungguh sepi, Lippo Mall Nusantara yang dulunya dikenal Plaza Semanggi sungguh lah sunyi karena orang pun tidak berani keluar serta para driver pun tidak mau mengabil meliputi area merah.

Demonstrasi perlu tapi jangan berlarut-larut, jadi para petinggi di kursi pedudukan jangan tutup telinga akan jeritan hati rakyat karena kalau tidak berubah pasti aksi seperti ini akan terjadi dan berdampak pada keamanan, kenyamaan serta aktivitas niaga masyarakat. Saya gatau berapa duit yang tidak beredar pada saat kejadian itu tapi miliran bahkan ratusan mungkin triliunan pada saat 28-29-30 bisa terjadi karena sendi ekonomi terhambat. Ayo suarakan dan tetap dalam nalar dan waras.

Friday, September 12, 2025

Bertanya Ke Diri

Jauh sebelumnya aku telah memulai berbicara kepada diriku sendiri tentang apa yang kurasakan dan kulakukan. Aku bertanya ke dalam dengan berbagai pertanyaan menggunakan metode 5W +1H tentunya ini sangat familiar bagi semua. Namun kali ini aku bercerita tentang tanya-jawab antara diriku dengan aku di dalam suatu percakapan yang menarik ditemani oleh semesta dan Pemiliknya.

Saya (Pikiran) : Hai engkau, apa yang sedang kau pikirkan ?

Saya (Hati) : Apa katamu ? bukankah engkau pikiranku ? kenapa engkau berkata apa yang kupikirkan ? Tidakkah kau tahu akan isi pikiranku saat ini ?

Saya (Pikiran) : Bukannya aku tidak tahu, tapi kerap sekali pikiranmu tidak engkau kerjakan sementara banyak yang muncul ide-ide baru yang kadang aku pun tak sanggup menampungnya. Apa sih yang kau gelisahkan ?

Saya (Hati) : Kegelisahanku banyaklah namun ada satu hal yang engkau pasti tahu namun tak akan kutuliskan disini. Cukup engkau dan aku saja. Begini yang kurasakan saat ini....Aku telah melalui banyak-banyak kejadian dalam hidupku tapi rasa-rasanya aku mulai gagal entah karena aku yang merasa gagal atau mungkin karena aku tidak mengerjakannya. Itu menghantui pikiranku sehingga aku pun kadang semangat namun teramat sering tidak bersemangat

Saya (Pikiran) : Cukup, cukup, cukup... Kamu tidaklah gagal, lihat apakah engkau sudah tidak mempunya daya lagi ? Atau sudah hilangkah akalmu ? Atau sudah benar mati kah semangatmu ?

Saya (Hati) : Tentunya tidak, aku masih ada tenaga, aku masih memiliki akal yang sehat dan semangatku masihlah banyak

Saya (Pikiran) : Nah, berarti kegagalan tidaklah ada di dalam engkau. Semua yang kau sampaikan sebelumnya hanyalah rasa letihmu saja yang sedang mendominasi engkau. Cukup istirahat sejenak dan lihatlah sekelilingmu.

Saya (Hati) : Saya sudah cukup banyak istirahat dan telah melihat sekelilingku dengan begitu ragamnya. Rasa-rasanya sudah cukup bagiku beristirahat.

Saya (Pikiran) : Berarti cukuplah tujukan satu di pikiranmu, jangan terlalu banyak dan bahkan hanya yang harus kau kerjakan sekarang.

Saya (Hati) : Saya telah mencoba namun tak semudah itu bagiku.

Saya (Roh) : Hai kamu berdua ? Kamu sedang berbicara apakah ? Menarik dan penting sekiranya yang kamu bicarakan.

Kita (Pikiran dan Hati) : Iya (sahut kami berdua)

Saya (Pikiran) : Dia (Hati maksudnya) begitu letih sepetinya bukan fisiknya, bukan pula jiwanya sepertinya, tapi apa yang lemah darinya aku juga kurang mengerti.

Saya (Hati) : Aku cukup letih dan lesu, atas apa yang aku letihkan pun menjadi bayang-bayang samar bagiku. Entah mulai darimana aku pun bingung.

Saya (Pikiran) : Bukankah engkau puny banyak teman yang begitu mampu menolong engkau ? Bukankah engkau begitu baiknya akan mereka ? Kenapa engkau tidak meletakkan tanganmu dibawah untuk meminta ?

Saya (Hati) : Benar katamu itu, tak sedikitlah yang bisa menolong aku, tapi...

Saya (Pikiran) : Tapi apa ? Egomu ? Gegsimu ? Atau apakah ?

Saya (Hati) : Bukan pula, asal kau ketahui bukannya aku tidak pernah meletakkan tanganku dibawah, namun...

Saya (Pikiran) : Namun apa ? kecewa ? atau apa ?

Saya (Hati) : Bukan begitu, tak sedikit yang menyangkan aku bahwa aku sengaja menguji mereka ketika memintakan bantuan. Dianggap bercanda dan tak wajarlah itu bagiku.

Saya (Pikiran) : Tapi kali ini coba lagi, itu hanya ilusi sesaat, tak selamanya begitu.

Saya (Hati) : Bukannya aku kecewa ketika tidak mendapat bantuan tapi aku ragu akan memintanya lagi.

Saya (Pikiran) : Terus siapa yang akan kau mintakan ? Siapa lagi yang akan kau sandarkan ?

Saya (Roh) : Adakah Dia yang mengecewakanmu ? Adakah Dia yang tidak menolong engkau ? Atau tidak mampukah Dia ?

Saya (Hati) : Sejatinya tidak, dan tidak pernah

Saya (Roh) : Kenapa engkau sibuk dengan raut di pikiranmu ? Bukankah Dia senang meolong dan menunggu yang meminta ?

Saya (Hati) : Baiklah.

Saya (Roh) : Dia menunggumu dan ingin memberimu

Saya (Hati) : Baik, aku kerjakan.

Halo semua, dari cerita antara aku dan diriku menggambarkan situasi bahwa begitu banyak yang sejatinya bisa menolong kita, tapi jangan lekaslah meminta kepada orang bukannya tidak boleh tapi coba tanyakan kembali ke dalam diri anda. Apa yang harus aku lakukan ? Bagaimana aku harus menghadapinya ? Dengan siapa akan kulewati ? Tentunya tidaklah mudah namun ketika engkau mampu berbicara dengan dirimu di kemurnian hati dan pikiranmu tentulah ada jalan yang akan membawamu kepada ketenangan. Semua memiliki fasenya tapi pastikan setiap fase engkau berhasil. Yang menentukan ialah dirimu sendiri. Tidak ada kegagalan selama masih ada hembusan nafas walaupun banyak kekeliruan yang kau pilih. Seiring waktu engkau akan bijak atasnya.


Salam,

by fspandia

Monday, September 8, 2025

Mengenal Diri Kembali

 by @fspandia

Halo bloggers, 

Kali ini saya akan menyajikan sebuah pikiran saya Mengenal Diri Kembali, sejatinya setiap insan tidaklah mengenal dirinya sendiri secara mandiri, perlu serta butuh yang namanya waktu dan peristiwa. Adakah seorang bayi yang lahir terus tumbuh menjadi batita, balita, anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua dengan sendirinya mengenali dirinya sendiri ? Tentu tidak, semuanya butuh yang namanya waktu karena untuk bertambah secara usia pun memerlukan waktu. Tapi apakah waktu saja cukup untuk mengenal diri ? Tentunya pun tidak karena tanpa ada peristiwa-peristiwa dalam hidup tidak akan mengantarkan seorang sampai kepada mengenal diri sendiri. Namun, pasti akan ada juga yang mempertanyakan bahwa banyak orang dari segi usia serta pengalaman hidup sudah cukup banyak namun di masa senjanya juga tidak mengenal dirinya secara utuh, hal itu kerap sekali terjadi karena kita tidak berdamai dengan diri sendiri dimana yang dimaksud dengan berdamai diri sendiri ialah menerima segala peristiwa yang telah lampau serta tidak mengungkitnya dengan berkata "seandainya" karena bagaimana pun itu peristiwa lampau yang sudah terjadi dan tidak bisa diulang kembali namun mungkin masih ada kesempatan yang serupa di waktu yang berbeda. Jadi "berdamai dengan diri sendiri" ialah menerima kenyataan yang telah terjadi (biasanya peristiwa yang menyedihkan/menyakitkan hati) dan ketika teringat akan hal itu tidak membawa kepada dimensi hati, pikiran dan emosional yang berdampak pada energi negatif seperti dendam, kekecewaan yang mendalam, namun bisa tersenyum dan berkata "baiklah peristiwa itu bagiku" sehingga membawa aku mengenal diriku. Mengenal diri kembali ialah proses dimana kita melihat bahwa kehadiran kita di tengah keluarga, masyarakat serta semesta bukanlah suatu fungsi tunggal bagi diri kita sendiri melainkan memiliki peran bagi kebaikan semua umat. Serta dengan mengenal diri kembali akan membawa suatu perasaan bahagia dan damai.

Poin penting mengenal diri kembali :
1. Menggunakan waktu sebaik-baiknya

2. Menghargai setiap peristiwa yang terjadi

3. Mengambil pesan positif atas semua peristiwa yang menyedihkan

4. Berdamai dengan diri sendiri

5. Memiliki fungsi yang tidak tunggal namun peran bagi pribadi, keluarga dan semesta.

Aku pun menuliskan "mengenal diri kembali" ialah sebagai bentuk pertanyaan atas diriku sendiri yang saat ini sedang melihat dan menatap mau seperti apa aku ? Ambil waktu setidaknya 15 menit berbicara terhadap diri sendiri. Berbicara terhadap diri sendiri meliputi, pikiran, perasaan (hati) dan supranatural (keyakinan).

Yakinkan diri bahwa masih ada waktu, walaupun singkat dan terasa pendek tapi harus bisa berbuat lebih ekstra dari waktu yang sudah lampau.

Untuk berdiskusi lebih lanjut sangat terbuka atas apapun
Terima kasih
Fitra S. Pandia